Showing posts with label Fanfic Crazy Competition. Show all posts
Showing posts with label Fanfic Crazy Competition. Show all posts

Monday, 7 May 2012

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 30 [END]


Part sebelumnya:
“Yuya……………….,” teriakkan Kouta dengan suara khasnya yang melengking tinggi masih bisa kudengar dengan jelas.
Aku masih sempat melihat wajah sahabatku itu yang berusaha mengulurkan tangannya tuk meraihku – sesaat sebelum semuanya menjadi gelap.
Kelam………

*****************

[Hermione’s POV]
“Yuya……..,” teriakkanku mengiringi langkah kakiku yang berlari cepat ingin menyelamatkan Yuya – sebelum akhirnya Harry dengan sigap menahanku dan menyuruhku tuk mencoba tenang.

Kupandangi kembali layar besar itu. Yabu mengangkat bendera putihnya untuk Yuya. Panitia kejuaraan segera menelusuri jurang itu tuk mencari keberadaan orang yang kukasihi – Yuya!!

Sementara di sampingku, Ryuu tengah berusaha keras menahan Megumi yang sedari tadi ingin segera membawa Ryosuke keluar dari Hutan Kematian yang mengerikan itu.
Aku bisa memahami perasaan Megumi – karena aku juga merasakan apa yang ia rasakan.

Ryosuke….
Aku tak berani membayangkan andai anak itu tak lagi bisa bertahan. Apa jadinya jika Yuya sampai kehilangannya lagi?!!
Bagi Yuya, anak itu lebih berharga dibanding diriku. Yuya lebih menyayangi adiknya yang satu itu…

“Harry, aku tak apa. Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Tolong sekarang kau cek kabar terakhir dari Kei. Pastikan ia baik-baik saja. Tolong ya……..,” tanpa memprotesku, Harry segera menaiki sapu terbangnya menuju tempat dimana Kei tengah berada.

Perasaanku kali ini teramat gundah memikirkan kabar Yuya yang sampai saat ini ku tahu panitia masih belum menemukannya.
Di satu sisi, aku juga harus memikirkan adik-adik dari kekasihku itu. Karena ku tahu, Yuya tak kan bisa hidup tanpa adik-adiknya.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 29


Part sebelumnya:
“Kakak……… Bangun………,” isakan tangis Ryosuke yang tak terbendung menangisi sosok di pangkuannya yang telah bersimbah darah membuatku tak bisa berkata-kata.

Kurasakan jantungku yang berdebar begitu kencang berpacu tuk segera meluncur keluar dari dadaku serta sakitnya hatiku ini hanya bisa memandangi wajah mereka di balik layar itu.

Kei………….
Sahabatku…………
Wajahnya tlah memerah berlumuran darah………….

Apa yang tlah terjadi?!!!

*****************

[Ryosuke’s POV]
Aku terus berteriak dengan sisa-sisa tenagaku tuk membangunkan kak Kei. Kutengadahkan kepalaku menatap langit kelam di atas sana mencoba menahan air mataku. Jujur aku tak berani tuk memandang wajah kak Kei saat ini. Ia tlah menyelamatkanku dari amukan singa barusan dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Aku tak berani memandangnya……
Ku tahu hatiku tak kan kuat menanggung beban ini jika sampai kenyataan memberitahuku bahwa tubuh di pangkuanku ini hanyalah tinggal raga.
Aku takut…………

Koyakan di wajah dan tubuh kak Kei membuatku miris memandangnya. Bagaimana mungkin ku bisa menahan air mata ini?!
Tidak mungkin…..

“Tidaaaakkkkk…………,” kuangkat bendera putih milik kak Kei pertanda kuingin agar panitia segera mengeluarkan kak Kei dari area mengerikan ini. Kuyakini diriku tak kan sanggup berlama-lama melihat pemandangan yang tak ubahnya bagai kiamat. Ku tak mau kehilangannya…….

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 28


Part sebelumnya:
Bersamaan dengan rasa panikku ini, kulihat Ryo-chan sudah mulai muntah-muntah…….
“Ya Tuhan……. Lindungi kami……..” doaku dalam hati sambil menepuk-nepuk punggung Ryo-chan tapi mataku masih memandang lekat pada sosok Hinata yang terlihat menatap kami berdua dengan tatapan yang terkesan ingin menyakiti kami……

*****************

[Hikaru’s POV]
“Wah, kemana aku harus mencari Ryo-chan di tempat seramai ini?!” batinku sambil melihat ke sekeliling pasar malam yang sangat ramai ini.

“Hikaru-kun………..” kudengar seseorang memanggil namaku dan akupun segera menoleh mencari keberadaan orang yang memanggilku barusan.
Segera kudapati sosok Megumi yang tengah berjalan ke arahku menggendong Ryo-chan yang terlihat begitu lemas dan pucat namun masih bisa kulihat dirinya yang masih tersadar.
“Kenapa dia?!” tanyaku seketika sambil memindahkan tubuh Ryo-chan ke punggungku.
“Kita pulang saja dulu, ceritanya nanti saja. Aku takut kondisi Ryo-chan semakin memburuk” respon Megumi sambil menarik bajuku tuk segera melangkahkan kakiku.

*****************

[Megumi’s POV]
Aku, Ryo-chan, dan Hikaru-kun terjebak hujan yang begitu lebat. Terpaksa kami bertiga harus berteduh di emperan kedai yang sedang tutup ini. Padahal aku tahu, Ryo-chan sangat butuh kehangatan saat ini. Tubuhnya terlihat menggigil……

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 27


[Daiki’s POV]
Aku mendengar juri mengumumkan bahwa Yuya adalah pemenangnya. Biarpun aku sedikit terkejut dengan kejadian di arena tadi, tapi aku senang kami berhasil menang.

“Dengan begini permainan akan lebih seru” kata Sasuke yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.
“Jangan-jangan………” responku atas kalimat Sasuke tadi tapi aku tak melanjutkan kalimatku itu karena aku yakin Sasuke sudah tahu apa yang mau kukatakan.
“Ya. Kami memang sengaja mengalah di pertandingan hari ini. Aku yang telah menyuruh Neji tuk memanipulasi pertandingan agar kalian menang” jawaban yang sudah kuduga keluar dari mulut anak itu.

“Semoga kalian tak kan menyesal karena telah mengalah pada kami hari ini” suara Ryo-chan membuatku dan Sasuke menoleh padanya.
“Wajahmu pucat! Kau sakit ya?” tanya Sasuke pada adikku itu.
“Besok adalah pertandingan terakhir. Jagalah kesehatanmu baik-baik agar esok kalian tak mengecewakanku” tambahnya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kami.

*****************

[Kei’s POV]
“Juri bilang esok kita wajib mewakilkan 5 orang tuk pertandingan terakhir, tapi kita cuma berempat. Gimana ni, kak?” tanyaku pada kak Yuya yang tengah menyiapkan makan siang dibantu Megumi.
“Tenang-tenang…… ada aku……” kata Hikaru yang baru saja nimbrung dan memotong pembicaraan.
“Kalian lupa ya… Kamikan sudah pindah ke universitas kalian” sambung Yabu sambil menepuk pundakku dari samping.
“Eh?!” aku sedikit kaget dengan kata-kata mereka berdua. Aku benar-benar lupa kalau mereka berdua sudah pindah ke universitas kami.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 26


[Yuya’s POV]
Aku segera meraih lengan Ryosuke dan meletakkan kepalanya di pangkuanku.

“Ryo-chan!! Bangun!! Gomen ne….. Aku tak kan lagi meninggalkanmu. Jadi buka matamu!!” rengek Megumi sambil menangis terisak-isak.
“Kau tak bohong kan, Meg?!” kata Ryosuke yang langsung bangun dan memegang kedua pundak pacarnya itu dengan tiba-tiba.

Sesaat suasana menjadi hening. Tak ada sedikitpun suara. Empat pasang mata kini menatap tajam ke arah adik bungsuku itu.
Kulihat ia terlihat bingung memandangi kami bergantian dengan wajah paniknya.

Detik pertama
.
.
Detik kedua
.
.
Detik ketiga
.
.
“Kyaa……. Gomen…….” teriaknya yang langsung berlari tunggang langgang karena menyadari dirinya dalam bahaya jika tak segera menjauh dari kami.
Tepat dengan apa yang ia simpulkan, aku dan kedua adikku segera berlari mengejarnya hendak menghajar adik kami itu karena berani-beraninya berbohong seperti itu di depan kami.
Harusnya ia tahu kalau ia tak boleh melakukan itu mengingat kami sudah dua kali kehilangan dirinya.

*****************

[Hikaru’s POV]
“Adududududuh….. Pelan-pelan….. Itai yo!!” rintih Ryo-chan sambil memegangi luka di wajahnya.
“Makanya jangan suka macam-macam dengan kakak-kakakmu itu” kata Kota yang baru saja duduk di sisi Ryo-chan yang lain sambil membawakan kapas dan perban.

“Ugh… Kakak macam apa mereka?! Masa adik sendiri dipukuli sampai babak belur seperti ini?! Malah pada gak mau ngobatin pula. Ckckck…….” oceh Ryosuke sambil mengerutkan keningnya.
“Udah!! Aku mau tidur!!” tambahnya yang langsung melangkahkan kaki ke kamarnya.
“Wei… aku belum selesai mengobati lukamu…” teriakku tapi sepertinya ia tak menghiraukanku.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 25


[Kei’s POV]
“Wei, anak ingusan….. Jangan menuduh sembarangan” bentakku seketika sambil mengepalkan tanganku hendak menghajar Ryuu, tapi kak Yuya segera menghentikanku.

“Memang bukan kau. Tapi seseorang yang akhir-akhir ini mencoba dekat denganmu agar ia bisa balas dendam dengan menutupi motifnya” terang Ryuu segera dan kata-katanya itu semakin membuat kami tak tahu siapa orang yang ia maksud.

“Sudah…… Sebutkan saja namanya langsung!” kata Hikaru dengan tidak sabar.
“Kyuu, keluarlah” ucap Ryuu sambil menuangkan minuman ke gelasnya dan kamipun hanya bisa saling pandang kenapa Ryuu menyebut nama temannya yang saat ini sedang tak ada di sini.

Seketika kami kaget saat melihat sesosok makhluk keluar dari bawah meja makan dan segera membungkuk dalam-dalam ke arah kami.
“Jabang bayixs…” respon Yabu dan Hikaru bersamaan karena kaget melihat sosok itu yang tiba-tiba nongol di antara kaki mereka.
“Gomen, aku telah berbuat salah. Aku sungguh menyesal. Saat itu aku tengah khilaf mengetahui kabar kematian Sakura dan langsung memutuskan tuk menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Ryosuke” terang anak itu dengan segera yang tak lain adalah Kyuu Renjo, masih dengan membungkukkan badannya.

“Darimana kau tahu kalau Kyuu pelakunya, Ryuu?” tanya Megumi.
“Saat aku berangkat ke Amerika, aku terburu-buru karena hampir ketinggalan pesawat. Tanpa kusadari, buku saku DDS ku tertukar dengan punya Kyuu. Aku menemukan foto Sakura di antara lembaran buku itu. Cukup mudah tuk menyimpulkan bahwa Kyuu pelakunya. Apalagi setelah ada telepon kalau Ryosuke meninggal, dugaanku jadi semakin kuat kalau Kyuu dalang di balik semua ini” terang Ryuu dengan segera.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 24


[Kota’s POV]
Aku membaringkan Yuya dan kedua adiknya di kamar Yuya. Dokter bilang, mereka mengalami depresi berat. Jika mereka tidak segera melupakan kepergian adik mereka itu, kemungkinan terburuk, mereka bisa menjadi gila.

“Ini pasti berat bagi kalian” kata gadis yang bernama Hermione itu sambil membelai rambut Yuya yang masih belum sadar.

“Berapa lama kalian saling mengenal?” tanyaku mencoba ngobrol dengan gadis itu.
“Aku sudah menyatakan rasa sukaku pada Yuya 3 tahun lalu, tapi kami baru resmi berpacaran belum ada 1 bulan ini” terangnya tanpa memandang ke arahku.

Selama 3 tahun sekelas dengan Yuya dulu, aku tak pernah menyadari kalau Yuya anak orang kaya. Yuya belum pernah sekalipun mengajakku ke rumahnya. Bahkan ia melarangku datang di hari pemakaman orangtuanya dulu. Aku jadi sedikit iri dengan gadis yang bernama Hermione ini.

“Wei, ada tamu” bisik Hikka yang tiba-tiba masuk ke kamar dengan nada suaranya yang menyeramkan dan sukses membuatku tersentak kaget.
“Siapa?” tanyaku pendek padanya.
“Tiga orang anak laki-laki. Sepertinya mereka seumuran kita” terang Hikka padaku.

“Dasar…… Kalian benar-benar tak becus…… Baru kutinggal sebentar saja kalian tak bisa menjaga adik kalian!!” kata seorang anak berbaju putih berambut hitam legam yang tiba-tiba masuk ke kamar ini dan terlihat marah-marah.

“Sasuke, Harry, Ryuu?!” Hermione segera bangkit dari tempatnya tadi duduk.

*****************

[Yuya’s POV]
Aku mendengar kicauan burung-burung yang melantun indah saling bersahutan. Sepertinya hari sudah pagi.
Kepalaku masih terasa teramat berat. Kulihat Kei dan Daiki terbaring di sampingku. Aku terduduk memandangi wajah kedua adikku itu. Ntah kenapa aku merasakan sakit yang teramat sangat di hatiku ini. Wajah Ryo-chan yang tengah tertidur lelap melintas di kepalaku yang membuatku tak kuasa menahan air mataku.

Aku masih tak percaya adikku itu tlah tiada. Kenapa semua terjadi begitu mendadak? Tidak seharusnya semua ini terjadi pada kami. Dan tidak seharusnya Ryosuke pergi mendahuluiku. Hatiku terasa tersayat-sayat mengingat pemakaman Ryosuke kemarin. Aku tak kan lagi bisa melihatnya tersenyum. Andai waktu bisa diputar kembali, aku rela menukarkan nyawaku dengannya.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 23


[Kei’s POV]
Sudah kuputuskan tuk tak kan lagi membiarkan siapapun menyakiti saudaraku.

“Lepaskan dia. Apa yang kau mau dariku?” tanya Ryosuke lembut sambil melangkahkan kakinya mendekati anak bernama Killua itu. Akupun buru-buru memegang lengan adikku agar ia segera menghentikan langkahnya.
“Ryo-chan, jangan seenaknya. Kau juga harus memikirkan perasaan kami” kataku setelah kuraih lengannya.

“Percayalah pada Ryo. Ryo akan baik-baik saja” jawabnya sambil tersenyum lembut ke arahku dan iapun segera melepaskan tanganku dari lengannya, masih dengan tersenyum.

“Anak baik. Dengan begitu aku tidak perlu susah-susah tuk memaksamu” kulihat Killua mengembangkan senyumnya yang begitu mengerikan.


[Yuya’s POV]
“Apa yang ingin dilakukan adikmu itu?” tanya Kou-chan padaku.
“Anak itu paling tidak bisa diam melihat orang lain dalam kesusahan terutama karena dirinya” kataku ringan pada Kota karena perasaanku kali ini sedikit merasa tak enak melihat Ryo-chan seakan mendatangi sendiri mautnya.

“Yama-chan….. Aku tahu kau pasti akan menolongku” anak yang bernama Yuri itu terlihat sedikit mendapatkan kemenangan.

“Jika ingin menyakiti adikku, langkahi dulu mayatku!!” tiba-tiba kulihat Dai-chan berlari dan langsung berdiri di depan Ryosuke merentangkan kedua lengannya menghalangi Ryo-chan.

Apa yang kulakukan ini?! Kenapa aku hanya diam? Seharusnya ada sesuatu yang bisa kulakukan sebagai seorang kakak.

Akupun segera mengikuti langkah Daiki dan segera kuberdiri di samping adik keduaku itu.
“Langkahi dulu mayat kami” kata Kei yang ternyata juga sudah berdiri di sampingku dan Daiki, melakukan hal yang sama dengan kami.

“Merepotkan saja! Jangan salahkan aku jika kuhabisi kalian semua!” kulihat Killua mulai terlihat marah dan auranya terasa begitu membuatku merinding.


[Ryosuke’s POV]
“Kakak, apa yang kalian lakukan?” aku heran melihat kakak-kakakku menghalangi langkahku.
“Ryo-chan, mungkin jika kau punya adik, kau akan paham perasaan kami dan akan mengerti kenapa kami melakukan ini” kata kak Yuya tanpa menoleh padaku.

“Berani macam-macam dengannya, kau harus berurusan dulu dengan kami” giliran dua bodyguard Chinen yang kini sudah berdiri di depanku.

“Kou-chan?!” kak Yuya terlihat heran dan temannya itupun hanya melayangkan senyuman padanya. Begitu juga dengan kak Kei dan anak yang bernama Hikaru itu.

Tak tanggung-tanggung, kini Megumi dan Hermionepun ikut-ikutan membuat pagar di depanku.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 22


[Ryosuke’s POV]
Aku merasa tak enak telah menyakiti hati Chinen. Kami sudah cukup lama kenal. Sudah 7 tahun ini Chinen selalu berusaha tuk mendekatiku. Ia mulai berani mendekatiku semenjak aku menolongnya ketika ia terkunci di kamar mandi sekolah karena ulah Yuto si teman baikku yang sebenarnya menyukai Chinen.

“Ryo-chan…. Terima kasih sudah mau mengakuiku sebagai pacarmu di depan anak gadis tadi” kata Megumi sambil memeluk pinggangku.
“Kau tak apa?!” tanyaku sambil merapikan rambut Megumi yang berantakan.

“Gadis yang barusan cukup manis. Sayangnya ia terlalu centil” kata kak Kei sambil merebahkan badannya di kursi stadion.
Aku tahu yang dimaksud kak Kei adalah Chinen. Aku akui Chinen memang kawaii. Tapi aku tak mungkin menyukainya. Selain aku sudah memiliki Megumi, Chinen merupakan orang yang disukai oleh sahabat karibku, Yuto.

Tiba-tiba perhatianku tertuju pada salah satu pintu stadion. Aku melihat Chinen berjalan ke arah kami dari kejauhan. Kali ini ia tak sendiri.
“Yabu-kun… Hikaru-kun… Ia yang telah menyakiti hatiku” kata Chinen sambil menunjuk ke arahku.
Aku melihat dua orang laki-laki yang berjalan dengan Chinen itu kini melangkahkan kakinya cepat ke arahku.

“Kou-chan?!” tiba-tiba aku mendengar suara kak Yuya memanggil seseorang sambil menatap salah seorang laki-laki bertubuh tinggi yang kini sudah berada di depanku.
“Wah, ternyata kau, Yuya….. Sudah lama tak ketemu nie. Gimana kabarmu?!” kata orang di depanku itu yang kini sudah mengalihkan langkahnya ke arah kakak pertamaku. Kulihat ia segera duduk di samping kak Yuya dan memulai obrolan mereka. Sepertinya kak Yuya memang mengenal baik pria itu.

“Ups… Jangan duduk dekat-dekat dengan Yuya. Yuya itu milikku” Hermione tiba-tiba menyerobot duduk di antara kak Yuya dengan temannya yang bermarga Yabu tadi.
“Kau kira aku homo apa?!” respon pria itu dengan cepat menanggapi Hermione.

“Yabu-kun!! Kok malah ngobrol?!” rengek Chinen sambil menarik-narik baju orang yang dipanggilnya Yabu itu.
“Kau pergi dulu sana, Yuri-chan. Aku sedang ingin ngobrol dengan teman lamaku ini” kata Yabu tanpa memandang Chinen dan segera melanjutkan obrolannya dengan kakakku.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 21


[Daiki’s POV]
Aku sangat panik melihat adikku yang tiba-tiba terduduk di tanah. Mungkin aku masih trauma dengan apa yang pernah kurasakan saat kepergian anak itu beberapa hari yang lalu.
“Ryo-chan, kau tak apa?!” tanyaku pada adikku itu hampir bersamaan dengan kedua saudaraku yang lain.
“Tolong kalian diamlah dulu” kata adikku itu yang terlihat sedang mencoba menenangkan dirinya.

“Itu balasan untukmu karena tlah membuat Sakuraku mati” kata seseorang tiba-tiba dari belakang kami. Ternyata ia si orange yang tadi melawan Kei.

Aku melihat Sasuke langsung berjalan ke arah temannya itu dan langsung menghajar wajah si orange itu dengan sangat keras sampai terpelanting beberapa kali.
“Apa yang kau lakukan ini, Naruto?! Tak sepantasnya kau melakukan ini” kata Sasuke dengan nada tinggi ke arah anak yang bernama Naruto itu.
“Sekarang serahkan penawar racunnya pada mereka” tambah Sasuke.
“Nani?! Racun?!” kataku sambil bertukar pandang dengan kedua saudaraku.

“Tidak! Anak itu pantas mati!” kata Naruto sambil mengembangkan senyum yang membuatku teramat muak melihatnya.
“Kenapa kau jadi begini? Apa yang telah merasukimu dasar bodoh!!” respon Sasuke sambil kembali menghajar anak itu.
“Anak itu yang seharusnya mati!! Bukan Sakura!!” jawab si orange sambil kembali bangkit.
“Harusnya aku yang bertanya…… Apa yang telah merasukimu, Sasuke?! Padahal kau tau, Sakura mati karenanya!! Kenapa kau membiarkan Sakura menukarkan nyawanya dengan nyawa anak itu?!!” tambahnya dengan suara yang sangat lantang.

“Kalian berdua….. Hentikan……” teriak Yuya dengan suara yang begitu menggelegar sampai menggema di seluruh stadion yang luas ini.
“Hei, kau Naruto….. Apa yang sudah kau perbuat pada adikku?!” tanya Yuya dengan wajah yang terlihat teramat marah sambil menuju ke arah si orange tadi.
“Kau kira kau bisa seenaknya menyakiti adikku?!” tambah kakak pertamaku itu sambil melayangkan pukulan ke wajah Naruto. Aku melihat Yuya yang kali ini tak seperti dirinya yang biasanya.
Kali ini aku melihat kakakku itu kembali melayangkan puluhan pukulan ke arah anak itu dan anehnya si orange tadi tak satupun bisa menghindari pukulan Yuya.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 20


[Yuya’s POV]
Aku segera menyalakan lampu kamar Daiki. Kini aku bisa melihat wajah anak laki-laki itu dengan jelas. Kulihatnya wajahnya yang putih pucat. Ia meletakkan jemarinya di depan wajahnya. Auranya benar-benar membuatku merinding. Kulihat kukunya yang begitu tajam bagaikan pisau yang slalu di asah. Perasaanku jadi semakin tak enak.

“Siapa kau? Kenapa kau datang kesini? Kami tak mengenalmu” kataku padanya masih dengan perasaan takut yang menyelimuti diriku.

“Jjlleeebbb….” aku terkejut melihatnya menusuk Daiki menggunakan jemarinya itu. Seketika itu juga aku benar-benar syok. Mataku tak berkedip melihat pemandangan yang mengejutkan ini.
“Dai-chan?!” kataku lirih tak percaya melihat pemandangan di depan mataku itu. Tubuhku serasa lemas dan aku serasa tak kuat tuk menggerakkan tubuhku ini.

“Kakak?!” aku melihat Ryosuke berlari melewatiku dan segera menuju anak yang berambut putih tadi. Kulihat anak yang tak ku kenal itu segera keluar dari jendela dan menghilang di telan kegelapan malam. Tapi aku masih syok….
“Dai-chan….. Tak mungkin…...” kataku masih dengan wajah tak percaya. Tapi tiba-tiba Dai-chan berubah menjadi sebongkah kayu.

“Tenanglah, kak. Kak Daiki di sana” kata Ryosuke menunjukkan keberadaan Daiki yang tengah digendong oleh Sasuke.
“Syukurlah aku tak terlambat menggunakan jurus bayanganku” kata Sasuke sambil membaringkan kembali Daiki di ranjang.


[Ryosuke’s POV]
“Apa yang dilakukan pembunuh bayaran itu di sini?” tanyaku berharap akan ada yang menjawabnya. Yang ku tahu, anak itu adalah Killua.
“Killua Zaoldyeck. Ia akan membunuh siapapun sesuai permintaan klien. Tapi aku tak tahu siapa yang telah menggunakan jasanya” kata Sasuke mencoba menerangkan.

“Dai-chan, syukurlah. Aku kira tadi aku akan kehilanganmu. Jika itu sampai terjadi, aku tak kan pernah bisa memaafkan diriku karena membiarkan adik sendiri di bunuh di depan mataku” kata kak Yuya sambil menangis di samping ranjang kak Daiki.

“Sasuke, terima kasih. Lagi-lagi kau tlah menolong kami” kataku pada Sasuke sambil membungkukkan badanku ke arahnya.
“Sudahlah, tak apa. Lebih baik kalian juga belajar beladiri atau sejenisnya yang bisa melindungi diri kalian. Aku pulang dulu” pamitnya pada kami dan iapun langsung keluar lewat jendela kamar kak Daiki.

“Bagaimana kondisi kak Daiki, kak?” tanyaku pada kak Yuya.
“Sejak tadi ia belum bangun. Sudah pasti badannya sakit semua” jawab kakak pertamaku itu padaku.
“Bentar kak, Ryo tahu bagaimana membangunkan kak Daiki” kataku pada kak Yuya sambil kuberjalan keluar dari kamar kak Daiki.

*****************

[Kei’s POV]
Anak yang bernama Kyuu itu sudah pulang sekarang. Ternyata ia asyik juga.

“Tlong bantu Ryo masak, kak” suara Ryo-chan tiba-tiba mengagetkanku.
“Sejak kapan kamu pulang?” tanyaku heran dengan keberadaannya yang tiba-tiba.
“Jadi tadi kakak tak mengetahui ada keributan di atas? Hm, dasar….” katanya padaku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Melihat sikapnya yang sedikit dingin, sepertinya ini adalah Ryo-chan versi devil. Jadi aku tak boleh menyinggungnya.
“Masak malam-malam begini?!” tanyaku padanya.
“Untuk kak Daiki” jawabnya pendek sambil memotong-motong daging dan sayuran dengan begitu cepat.
Kulihat ia menyelesaikan masakannya hanya dalam beberapa menit. Semangkuk sup yang terlihat begitu menggiurkan.

“Bagi dong Ryo-chan” rengekku.
“Ini untuk kak Daiki” katanya dengan singkat dan iapun langsung naik ke lantai 2. Aku segera mengikutinya dari belakang.

“Huaa…… Makanan……” teriak Daiki yang tiba-tiba berlari ke arah Ryo-chan yang belum sempat masuk ke kamarnya. Kulihat Dai-chan segera melahap sup itu cepat-cepat.
“Wuah….. Masih panas….. Tapi tak apalah” tambahnya masih tetap menyantap sup itu sambil berdiri.

“Dasar Dai-chan. Hidungnya benar-benar tajam kalau mencium aroma makanan” kata kak Yuya yang baru saja keluar dari kamar Daiki.

*****************

[Yuya’s POV]
Hari kedua pertandingan final. Pagi ini cuaca begitu cerah. Aku ingin masak untuk ketiga adikku dulu seperti biasanya. Tapi ternyata sudah ada orang di dapur.

“Ryo-chan?!” sapaku pada adikku itu.
“Sarapan sudah hampir siap, kak. Tunggu sebentar ya” katanya padaku sambil mengembangkan senyum polosnya.
“Kakak bangunkan ja kak Kei dan kak Daiki dulu” tambahnya.

Akupun segera menuruti kata adikku itu. “Kei, Daiki, sarapan sudah siap” teriakku.
“Wuah……. aku mencium aroma yang sama seperti sup tadi malam” kata Daiki yang tengah berlari cepat menuju meja makan.
“Cepat juga sembuhmu” kataku sambil nyengir ke arah adikku yang baru saja bangun tanpa mencuci mukanya dulu itu.
“Asal ada makanan enak, aku pasti akan baik-baik saja” jawabnya cepat sambil menyiapkan mangkuk di depannya dan juga sendok garpu yang sudah siap di kedua tangannya.

“Hari ini Ryo yang masak ya? Wah, pasti enak ni” kata Kei yang baru saja duduk di kursinya.
Sepertinya mereka memang lebih menyukai masakan Ryo-chan daripada masakanku. Hiks…..

*****************

[Daiki’s POV]
Kami sudah sampai di tempat kejuaraan. Ternyata kemarin aku memang kalah. Sedih juga rasanya sudah dihajar habis-habisan masih juga belum bisa memberikan yang terbaik.

“Kali ini siapa yang akan maju?” kak Yuya menawarkan pada kami.
“Karena kemarin Sasuke sudah maju, berarti ia tak boleh ikut bertanding hari ini. Jadi aku yang akan maju” kata Kei dengan mantap menerima tawaran Yuya itu.
“Dasar kau… Memanfaatkan situasi saja” responku langsung pada Kei.
“Yang penting kali ini kita bisa menang. Karena aku yang maju, sudah pasti kita akan menang” jawabnya dengan nada sombong.
Dasar Kei. Sepertinya moodnya hari ini sedang benar-benar bagus.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 19


[Yuya’s POV]
Daiki terlihat serius dalam melawan Sasuke. Biarpun sebenarnya aku tahu Sasuke bisa mengalahkan Daiki dengan mudah, tapi kenapa Sasuke tak segera mengakhiri pertarungan ini?!


[Daiki’s POV]
Biarpun sekali, aku berhasil juga memukulnya. Anak itu benar-benar membuatku muak. Andai saja kemarin ia tak menolong Ryosuke, mungkin tak ada sisi baik dalam dirinya yang bisa kuakui.

“Kau kira pukulan seperti itu akan berpengaruh bagiku?!” tanyanya lagi-lagi dengan nada mengejek.
Aku tahu ia benar-benar menyebalkan, tapi harus kuakui kalau ia jauh lebih hebat dariku dalam hal bertarung.
“Akan kutunjukan padamu perbedaan di antara kita” katanya tiba-tiba dan kulihat ia langsung menghilang.
“Bbuugghh…..” aku merasakan pukulan kuat dari arah belakang. Sasuke, ntah sejak kapan ia ada di belakangku.
Aku terpental belasan meter. Badanku sakit sekali terjatuh dan terpelanting keras di arena ini.


[Ryosuke’s POV]
Pertarungan ini murni berat sebelah. Kak Daiki tak mungkin bisa mengimbangi Sasuke. Terlalu tak berimbang. Setelah pukulan pertamanya tadi, kulihat Sasuke memukul kakakku itu puluhan kali lagi. Aku benar-benar tak tega melihatnya.

“Berapa kalipun kau memukulku, aku tak akan menyerah” aku mendengar kak Daiki mengatakan itu dan kembali bangkit dengan sempoyongan. Kulihat penonton sama tak teganya denganku menyaksikan pertarungan yang tak berimbang ini. Akupun sudah tak lagi bisa menahan diriku ini. Hatiku sakit melihat Sasuke tak segan sedikitpun tuk menghajar kakakku itu. Kuputuskan tuk naik ke arena itu dan menyudahi semua ini. Tapi…..

“Jangan renggut kehormatan Daiki sebagai seorang laki-laki. Biarkan ia menyelesaikan pertarungan ini” kata kak Yuya sambil memegang lenganku. Rasanya aku ingin menangis mendengar kata-kata kak Yuya itu. Sebesar itukah pengorbanan tuk mempertahankan kehormatan?! Apakah itu layak?! Akupun segera berlari menjauh dari arena tuk menghindari pemandangan yang tak ingin kusaksikan ini.


[Kei’s POV]
Daiki, ntah apa yang ada di kepalanya, tapi diantara kami ialah yang paling pantang tuk menyerah.

“Sampai kapan kalian membiarkan adik kalian dipukuli begitu?!” tanya Harry tiba-tiba sambil berjalan ke arahku dan kak Yuya. Kulihat Hermione juga bersamanya.

“Yuya, tolong hentikan pertarungan itu. Kasihan Daiki” rengek Hermione sambil memeluk erat pinggang kak Yuya.

Aku masih melihat Sasuke memukuli Daiki. Sepertinya Sasuke memang ingin menyiksa adikku itu perlahan. Harusnya ia bisa merobohkan Daiki dengan sekali pukul, tapi ia tak melakukannya.
“Kejam sekali ia” kataku lirih sambil memandang tajam ke arah Sasuke. Apakah aku harus diam saja melihat saudara kandungku dipukuli di depan mataku?! Rasanya kesabaranku hampir habis. Akupun mulai mengawali langkahku tuk menghentikan pertarungan itu. Tapi…..

“Sudah cukup……. Hentikan…….” teriak Ryo-chan sambil berlari ke arah arena itu. Aku melihat air mata di wajahnya. Begitu sampai di arena, Ryosuke langsung memukul keras wajah Sasuke sampai Sasuke terpelanting beberapa kali. Karena Ryosuke naik ke arena, Daikipun didiskualifikasi.


[Ryosuke’s POV]
Kak Daiki langsung roboh ketika aku naik ke atas arena. Ia sudah tak sadarkan diri karena pukulan-pukulan Sasuke. Akupun segera meraih tubuhnya dan menggendongnya di punggungku.

“Aku menantikan hari dimana kita akan bertarung” kata Sasuke lirih ke arahku.

*****************

[Yuya’s POV]
Kami sekarang sudah di rumah. Final hari ini kami kalah. Syukurlah hari ini hanya ada satu pertandingan final.

“Ting tung” aku mendengar bunyi bel. Akupun segera berjalan ke arah pintu tuk melihat siapa yang datang.
“Hai” sapa Sasuke padaku.
“Buat apa kau kesini?” tanyaku dengan nada datar padanya.
“Aku hanya membawakan obat untuk adikmu itu” katanya tanpa ekspresi sambil mengulurkan sebungkus obat herbal padaku.

“Siapa kak yang datang?” kudengar suara Ryosuke dari arah belakangku.
“Ternyata kau, Sasuke” tambahnya datar sambil melihat ke arah Sasuke.

“Ryo mau keluar dulu, kak. Perban di rumah habis” kata adikku itu sambil berjalan ke luar pintu.
“Boleh kutemani?” tanya Sasuke segera sambil berjalan ke arah Ryo-chan tanpa pamit dulu padaku.
“Tentu saja” aku mendengar jawaban pendek itu keluar dari mulut Ryo-chan.
Hm…. Kenapa jadi aneh begini?! Sejak kapan mereka sedekat itu?!

*****************

[Ryosuke’s POV]
Aku berjalan bersama Sasuke menuju apotek.

“Jadi, dimana Sakura dimakamkan?” tanyaku memulai pembicaraan di antara kami.
“Kenapa kau menanyakan itu? Kau tak marah aku sudah memukuli kakakmu sampai seperti itu?” iapun balik bertanya sebelum menjawab pertanyaanku tadi.
“Itu adalah pertandingan. Aku tak pernah menyalahkanmu” jawabku dengan nada dingin padanya.
“Lalu bagaimana dengan pertanyaanku tadi?” lanjutku sambil terus berjalan.


[Sasuke’s POV]
Anak ini benar-benar unik. Ia terlihat lebih dewasa daripada dirinya yang tadi pagi. Hm, benar-benar menarik. Aku jadi semakin ingin mencoba kemampuannya.

“Kenapa tersenyum sendiri?” tanyanya mengagetkanku.
“Ah, tidak….” jawabku dengan sedikit malu sebenarnya, tapi aku berusaha menyembunyikannya.
“Jadi dimana Sakura dimakamkan?” katanya mengulangi pertanyaannya tadi.
“Ia dimakamkan di makam ninja. Makam ninja di area kampus kami” terangku padanya.

Aku terus berjalan dengannya. Ntah kenapa aku merasa nyaman di dekatnya kali ini.
“Kau sudah makan?” tanyanya padaku. Pertanyaannya itu membuatku tertegun tuk sesaat. Selama ini, hanya keluargaku yang pernah menanyakan itu padaku. Tapi semenjak hampir 10 tahun yang lalu, aku sudah tak pernah lagi mendengar pertanyaan itu diajukan padaku.

Hey! Say! Jump Fanfiction - Crazy Competition Part 18



[Kei’s POV]
Aku benar-benar menyesal tlah kelewatan bicara. Andai terjadi apa-apa pada Ryosuke lagi, mungkin aku tak kan pernah memaafkan diriku sendiri. Akupun hanya bisa terdiam memandang wajah Ryo-chan menunggu respon darinya.

“Hm… Bagaimana ya mengatakannya?!” respon anak itu sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku, Daiki, dan kak Yuyapun hanya bisa saling pandang.
“Ryo-chan, tolong dengarkan penjelasan kakak dulu” kata kak Yuya dengan segera merespon kalimat Ryo-chan tadi. Sudah pasti kak Yuya khawatir jika Ryosuke sampai syok lagi.
“Ryo dah tahu kok, kak” jawab Ryo pendek sambil tersenyum polos.
“Sudah tahu?!” tanyaku padanya dengan wajah tak percaya. Kak Yuya dan Daikipun terlihat sama terkejutnya denganku.

“Awalnya Ryo memang sempat syok saat Megumi mengatakan itu” katanya mulai menjelaskan.
“Tapi Ryo bukan anak kecil lagi. Ryo tahu bahwa Ryo tak boleh terlarut dalam kesedihan ditinggalkan orangtua. Lagipula semua itu adalah kecelakaan. Bukan sepenuhnya salah Megumi” jelasnya pada kami masih dengan senyum di wajahnya.


[Megumi’s POV]
Aku benar-benar lega mendengar kata-kata Ryosuke tadi. Akupun segera memeluknya erat. Aku tak bisa menahan diriku… aku langsung mencium orang yang kucintai itu tepat dibibirnya.

“Kei, Daiki, ayo kita jalan-jalan dulu” kata Yuya sambil menarik baju kedua adiknya dan meninggalkanku berdua dengan Ryo-chan.

“Aku sudah pernah bilang… Sebesar apapun kesalahan Megumi, pasti akan Ryo maafkan. Karena aku sangat menyukai Megumi. Begitu juga sebaliknya, bukan?!” kata-kata yang ia ucapkan barusan semakin menentramkan hatiku.

Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami.
“Syukurlah akhirnya kau datang juga” kata Sasuke pada Ryo-chan.
“Terima kasih atas bantuanmu kemarin. Jika bukan karena bantuanmu, mungkin aku sudah mati” jawab Ryo-chan sambil tersenyum ke arah Sasuke dan mengulurkan tangannya tuk menjabat tangan Sasuke.
“Kau memang sudah mati” jawab Sasuke pendek dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan kami tanpa menghiraukan uluran tangan Ryo-chan.

“Wei… Dasar sok keren… Cuma berjabat tangan ja tak mau!!” umpat orang yang kusukai itu pada Sasuke.
Sasuke yang tadinya sudah berjalan meninggalkan kami, kembali melangkahkan kakinya ke arah kami.
“Nani?! Tadi aku salah ngomong, ya?!” tanya Ryo-chan polos ke arahku.

“Kalau bukan karena Sakura, kau pasti sudah terkubur di bawah tanah kemarin” kata Sasuke sambil menarik kerah Ryo-chan dan menatap tajam mata kekasihku itu dengan matanya yang tiba-tiba berubah jadi merah.

*****************

[Daiki’s POV]
Hatiku benar-benar lega mengetahui bahwa adikku ternyata sudah bisa berfikir dewasa. Syukurlah ia bisa mengikhlaskan kepergian orangtua kami.

“Yuya…” kudengar suara Hermione memanggil Yuya.
“Selamat berjuang ya! Kalian tak boleh kalah” tambahnya sambil memegang wajah Yuya plus senyumnya yang membuatku jengkel.

“Uh, pacaran mulu sana” gerutuku dengan nada mengejek.
“Plakk…” pukulan Yuya mendarat telak di kepalaku.

“Dasar!!” gerutuku sambil berjalan meninggalkan mereka berdua. Kei yang ada di sana juga tak membelaku sedikitpun. Uh…

Sementara menunggu pertandingan dimulai, akupun berjalan-jalan dulu. Akhir-akhir ini aku belum sempat ngobrol dengan Sakura. Akupun memutuskan tuk mencarinya. Biarpun ku tahu ia ada perasaan pada adikku, yang bisa kulakukan hanyalah pantang menyerah selama masih ada harapan.

Aku melihat anak dari universitas ninja berkumpul di salah satu sudut. Kulihat wajah-wajah mereka yang sangar. Wuh… inilah para ninja. Aku tak menyangka bisa bertanding di final melawan mereka.

Aku mencoba mencari keberadaan Sakura di antara kerumunan itu. Tapi aku tak menemukannya.
“Sedang apa kau di sini?!” suara Sasuke dari arah belakangku benar-benar mengagetkanku.
“Eeee…. Aku mencari Sakura” jawabku dengan agak takut melihat wajah Sasuke yang sepertinya sedang bad mood.
“Iya sudah pergi. Pergi tuk selamanya” jawabnya pendek dan segera meninggalkanku.

Aku segera mengejar Sasuke. Aku tak tahu maksud dari kata-katanya tadi.
“Apa maksudmu tadi?” tanyaku pada Sasuke.
“Dia sudah mati!! Paham!!” katanya dengan nada tinggi dengan wajah yang terlihat ingin membunuhku.
Biarpun aku masih belum memahami maksudnya, akupun segera lari meninggalkannya.

*****************

[Yuya’s POV]
“Maaf selama ini aku jarang memperhatikanmu” kataku sambil membelai rambut Hermione yang terurai panjang.
“Yuya tak perlu minta maaf. Harusnya aku yang minta maaf karena tak bisa menghiburmu di masa-masa sulitmu kemarin. Tapi syukurlah adikku bisa selamat” jawab Hermione sambil tersenyum ke arahku.

*****************

[Kei’s POV]
Kak Yuya dan Ryosuke sedang asyik bermesraan. Daiki sekarang ntah dimana. Hm, aku jadi iri pada kedua saudaraku itu. Aku juga ingin merasakan belaian seorang wanita.
“Nani?! Apa yang sedang kupikirkan ini?!” tanyaku pada diriku sendiri sambil memukul-mukul kedua pipiku.

“Kei!” aku mendengar suara Daiki memanggilku. Aku melihat wajahnya yang murung. Tak biasanya ia semurung ini.
Ada apa, Dai-chan?!” tanyaku padanya sambil merangkulnya yang kini sudah duduk di dekatku.
“Sasuke bilang padaku kalau Sakura sudah tak ada lagi di dunia ini” jawabnya dengan suara lemas.
“Kau percaya itu?!” tanyanya padaku melanjutkan kata-katanya.
Tentu saja aku agak terkejut mendengar kata-kata Daiki itu. Kemarin kami masih melihat Sakura baik-baik saja. Suatu hal yang aneh jika tiba-tiba ia sudah tak ada di dunia ini.

“Kakak” suara Ryosuke terdengar dari belakangku dan kulihat ia segera duduk bersamaku dan Daiki sebelum kusempat merespon pertanyaan Daiki tadi.
“Kak Dai-chan baik-baik saja?!” tanyanya lembut sambil memandang ke arah Daiki.
“Ntahlah Ryo-chan. Barusan aku mendengar hal yang membuat hatiku jadi terbebani dari Sasuke” jawab Daiki sambil menundukkan wajahnya.

*****************

[Yuya’s POV]
“Sudah dulu ya. Aku ingin mencari adik-adikku” kataku pada Hermione dan iapun segera mengiyakannya.

Aku berjalan mencari keberadaan ketiga adikku. Aku melihat mereka bertiga tengah duduk bersama. Akupun segera mempercepat langkahku ke arah mereka.

“Lagi pada ngapain nie?!” tanyaku pada ketiga adikku itu sambil mengembangkan senyum di wajahku. Tapi aku segera menghilangkan senyumanku itu ketika kulihat ketiga adikku tak merespon apapun.

“Jadi ia menukarkan nyawanya untukmu, Ryo-chan?!” suara Daiki terdengar dengan nada bergetar sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya ia sedang menangis.
“Maaf, semua salah Ryo” kata adik terkecilku itu sambil berjalan ke arah Daiki.

Followers